Jumat, 19 Oktober 2007

Berpihak

Hentikan penambangan Pasir Besi

Kita tidak tahu mengapa Penguasa Yoyakarta mendesakkan keinginaannya dirikan pengolahan pasir besi. Ada beberapa kajian soal itu

ADA tiga cara yang dilakukan untuk menambang pasir besi dari pantai atau laut. Pertama, mengambil langsung dari daerah pantai, yang dilakukan oleh PT Maktal di Cipatujah Kab. Tasikmalaya. Perusahaan ini, mengambil pasir besi dari pantai dengan cara manual menggunakan cangkul atau skop. Setelah dikumpulkan, lalu dipikul untuk dibawa ke kendaraan truk yang siap angkut.


SEJUMLAH pekerja tambang pasir besi menggali tanah di sepanjang pantai Trisik Kab. Kulon Progo, Kamis (14/10). Mereka menggali pantai untuk dipisahkan antara pasir biasa dan pasir besi. Saat ini ada usaha pertambangan pasir besi kian marak di kawasan ini.*

Kedua, mengambil dengan cara menggali dari gumuk pasir atau hamparan daerah pesisir yang tidak jauh dari pantai. Biasanya, jarak antara hamparan itu kurang lebih 300 hingga 500 meter. Hal ini dilakukan oleh PT Omega, PT Villa Husen Indonesia, serta PT Jassmas di Cipatujah. Caranya, dengan menggali pasir besi di kawasan daratan tidak jauh dari pantai. Penggali membuat galian dengan berbagai ukuran, dan biasanya setelah tergali sedalam tiga meter baru muncul pasir besi.

Sedangkan cara ketiga, yaitu ambil dari lepas pantai dengan cara disedot menggunakan kapal. Cara ini yang akan .

Dari tiga cara pengambilan pasir besi itu, semuanya mengandung risiko kerusakan lingkungan. Mulai dari abrasi, pesisir pantai nedap (amblas), hingga merusak biota laut.

Menurut Pakar Lingkungan, pertambangan pasir besi di pantai, mengandung risiko kerusakan lingkungan cukup tinggi. Sehingga, perlu analisa dampak lingkungan (amdal) yang benar-benar baik.

Sebelum izin dikeluarkan, kepala daerah mestinya melihat amdal dari perusahaan yang akan menambang tadi. Jika tidak, maka akan muncul masalah lingkungan di kemudian hari. Harus hati-hati ‘Pengambilan pasir besi secara jor-joran di sepanjang pantai, pertama akan menyebabkan bentangan lahan rusak. Lalu, kondisi pantai yang semula bersih, lambat laut akan keruh atau rusak. "Jika sudah terjadi demikian, maka tidak akan ada lagi ikan atau udang yang biasa berkembang di daerah itu,".

Selain itu, akan terjadi abrasi pantai yang lebih cepat lagi.

Jika saat ini dibuat lobang-lobang besar di pesisir itu, nantinya air laut akan merembes, hingga pada akhirnya terjadi longsoran dan nedap (atau amblas). Dengan demikian, kawasan pantai akan rusak. "Kalau sekarang tampaknya tidak, tapi jika pertambangan ini akan dilakukan selama bertahun-tahun, kerusakan bisa terjadi," Begitu pula yang terjadi di kawasan laut, yaitu dengan cara disedot. Cara ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati dengan tetap mengacu kepada amdal. Penyedotan itu bisa merusak terumbu karang. "Nantinya ekosistem di daerah itu akan terganggu.

menyebutkan, rantai ekosistem di laut , bisa rusak dengan adanya pertambangan tersebut, secara besar-besaran. Ia menyarankan, masyarakat maupun pemkab, jangan terbuai dengan nilai ekonomisnya, sementara masalah lingkungannya terabaikan.

"Kaidah konservasi harus benar-benar diperhatikan, dalam pertambangan ini," Fungsi benteng alam di daerah pantai harus terjaga, dengan hutan mangrove dan penanaman tanaman yang kuat di pingir pantai, harus diperioritaskan. Agar terjangan ombak tidak langsung ke dataran.

Keuntungan Tak Sebanding dengan Kerusakan Alam

Rencana penambangan pasir besi di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo untuk menambah pendapatan daerah tidak sebanding dengan akumulasi kerusakan ekosistem pantai yang bakal terjadi. Pertanian warga di pesisir yang sangat potensial juga bakal hilang.

Menurut Sudaryatno, dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penambangan pasir besi tak cukup hanya dikalkulasi dan dicari solusinya lewat rencana pemulihan. Volume gumuk pasir yang terambil tidak akan secepat proses pengembalian oleh alam.

"Pasir ini berasal dari material terhalus Merapi yang terbawa aliran sungai. Sementara di atas sana, proyek sabo yang menghadang lahar ternyata juga menciutkan jauh volume material. Ini berarti alam tidak akan bisa mengimbangi laju pengambilan pasir," ujar Sudaryatno, Senin (23/4).

Dengan penambangan sepanjang 22 kilometer, menjorok ke daratan sejauh 1,8 km, dan menggerus sedalam 14,5 meter, volume pasir yang terambil mencapai 650 juta ton. Jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan areal bawang merah, semangka, cabai, dan sayuran milik warga, termasuk juga akan menyingkirkan rumah mereka.

Kandungan bijih besi di sana cukup tinggi karena pasirnya berwarna kebiru-biruan. , kandungannya minimal 20 persen atau setiap 100 kilogram pasir bisa disaring bijih besi minimal 20 kg. Hanya saja, perhitungan selanjutnya tidak seperti teori.

"Apakah ada jaminan sisa pasir yang terambil akan dikembalikan lagi? Apakah perusahaan mau serepot itu dengan mengeluarkan biaya yang besar? Kalaupun dikembalikan sisa pasir yang tidak terpakai, pola alami gumuk pasir tidak akan mudah dibentuk. Dan lagi, bagaimana dengan pertanian pesisir yang hancur?" kata dia.

Gumuk pasir berguna meredam getaran dan ini sangat menolong saat gempa. Ketika pasir diambil, fungsi itu akan hilang, bahkan ditambah ancaman abrasi pantai dan intrusi air laut ke darat. Batas pantai yang bergeser juga memperlebar potensi genangan. "Terlalu mahal dampak kerusakannya dibanding manfaat penambangan pasir besi," . bkan nantinya nedap dan merusakkan kawasan pantai.

Kultur: Sajaknya Nyono

Author: pinguman
Published: 2005/8/30
Read 494 times
Size 426 bytes

Printer Friendly PageTell a Friend

Rela Sepenuh jiwa,
Segenap hati
Untuk revolusi

Takkan mati
Cita-cita zaman kini
Ke Socialisme
Dan Komunisme

Juang takkan henti
Ichlaskan diri
Tanpa pamrih pribadi
Hidup atau mati
Takkan ditakuti

Wispi

Author: SanggaBU
Published: 2005/7/13
Read 460 times
Size 1.67 KB

Printer Friendly PageTell a Friend

Eksekusi

Mereka lotre nama kami seperti berjudi
Siapa diantara kami yang besok harus mati
Mereka seperti Nero menunggingkan jempolkiri
Atas nama Tuhan, atas nama diri sendiri, atas nama eksekusi

Bagi mereka membunuh sudah hobby
Tanpa nama eksekusi, apalagi atas nama eksekusi
Diselamatkan kebudayaan baru, kebudayaan pencuri
Untuk itu komunis dan demokrat dijatuhi hukuman mati

Mereka bilang hantu-hantu menjalari dunia
Lalu mereka pelihara baik-baik itu takut hantu
Meletus gunung merapi ! salah komunis, katanya
Penangkapan demi penangkapan, fitnah media jadi laku

Jadi milyardair ini dinasti penguasa yang lahap
Beralatkan korupsi, penjara dan eksekusi
Siapa berani angkatsuara, baju ijo sudah siap
Gelap atau terang-terangan : tembak mati !

Setellah belasan tahun di penjarakan
Tidur dan bantun bersama keputusan
Hukuman mati , mata-dunia mengetahui
Di sini hak asasi manusia dibawah telapak tirani

Diatas kepala kami maut siap menghentam
Seperti kampak guilotin sebelum putus regangan
Robespierre , kau bukan satu-satunya
Menatap maut tak berkedip mata

Kusedot udara terakhir dari segala kenangan
Belasan tahun tidur dan bangun bersama hukuman mati
Belasan tahun maut menari bergendang siksaaan
Jika tiba waktuku aku ingat cintamu --- janganlah menangis


Agam Wispi , Tanah Air No 5 edisi Desember 1990


Sejarah masih berdarah
Maju sebagai Komunis
Yang konsekwen materialis
Membela kebenaran abadi
Memihak kaum buruh dan tani

Pendekatan Kritik Sastra Terhadap Alquran

Oleh Muhtar Sadili

23/07/2007

Penitikberatan aspek-aspek sosial yang masuk dalam rumpun humaniora tadi, akan membantu secara metodologis agar kita sampai pada makna yang kehendaki teks. Hal ini tidak berarti teks Alquran akan kehilangan sakralitasnya lantaran didekati ilmu-ilmu kemanusiaan. Sebaliknya, ilmu tersebut merupakan alat bantu efektif yang dapat menghidupkan semangat teks keagamaan dalam konstalasi realitas sosial yang menjadi konsideran nilai filosofis wahyu.



tra telah melahirkan metode tafsir sastrawi atas Alquran. Model tafsir ini dilandaskan pada gaya bertutur yang komunikatif karena banyaknya simbol yang sarat makna pada ayat-ayat Alquran. Semua itu diandaikan dapat mengantarkan penafsir pada makna yang terdalam dari teks Alquran. Inilah respons akademik atas usaha untuk memuliakan teks Alquran, selain untuk menyingkap kedok sebuah produk tafsir sebagai alat seorang penafsir untuk melanggengkan kepentingannya sendiri.

Tonggak Pembaharuan Tafsir

Amin al-Khûlî (1895-1966), adalah intelektual Mesir yang telah merintis perlunya penerapan metode kritik sastra atas teks-teks Alquran. Mulanya ia mengkaji bahasa dan sastra Arab sebagai upaya untuk membongkar kebuntuan persepsi tentang kesakralan Alquran. Kedua bukunya, Fil Adabil Mashrî (1943) dan Fannul Qawl (1947) adalah dua karya penting dalam menapaki pendekatan sastrawi atas Alquran. Al-Khûlî mengawalinya dengan mendekonstruksi wacana sastra Arab. Belakangan, kita mengenal usaha itu dikembangkan lebih lanjut oleh Muhammad Ahmad Khalafallah, Aisyah Abdurrahman atau Bintus Shâti (w. 1998), M. Syukri Ayyad (w. 2000) dan terakhir, Nasr Hamid Abu Zayd.

Dekontruksi itu dilakukan melalui dua cara. Pertama, kritik ekstrinsik (an-naqdul khâriji) yang diarahkan pada ”kritik sumber”. Ini mirip kajian yang holistik tentang faktor-faktor eksternal munculnya sebuah karya, baik aspek sosial-geografis, religio-kultural, maupun politisnya. Juga kajian terhadap sejarah karya dengan berbagai atribut periodisasi, sehingga mampu menemukan hubungan antara karya, latar belakang kemunculannya, dan semangat intelektual yang dikandungnya.

Kedua, kritik intrinsik (an-naqdul dâkhilî), yang diarahkan pada teks sastra itu sendiri. Dengan analisis linguistik yang hati-hati, kita diharapkan mampu menangkap makna yang dikandung sebuah teks. Ini menyerupai aliran egosentrik yang melihat sebuah karya sastra dari karya itu sendiri. Dalam konteks ini, kita menemukan Alquran telah menantang manusia untuk membuat sesuatu yang menyetarainya, sebagai cara Alquran memandang dirinya sendiri (QS. 17 : 88).

Al-Khuli sangat serius menggeluti tafsir Alquran lewat kritik sastra. Usahanya berlanjut dalam studi-studi ilmu Alquran. Ulasannya dalam buku Tafsîr Ma’âlim Hayâtihi: Manhajul Yawma (Darul Ma’rifah, 1962), telah menilik kecendrungan-kecendrungan eksternal yang melatarbelakangi para mufassir Alquran dalam melahirkan karya tafsirnya. Yang diulas misalnya, latar belakang intelektual, sosial, politik, dan idiologi seorang penafsir.

Karena itu, ia sangat antusias mengenalkan tafsir sastrawi terhadap Alquran (at-Tafsîr al-Adabî lil Qurân). Model ini diharapkan dapat menyuguhkan pesan-pesan Alquran secara lebih menyeluruh dan bisa menghindarkan diri dari tarikan-tarikan individual-ideologis yang pragmatis dari seorang penafsir.

Al-Khuli, karena itu, mengkritik tafsir saintifik yang memaksa teks-teks keagamaan agar senantiasa selaras dengan hal-hal yang temporer dan relatif. Tafsir saintifik, baginya tidak memperhatikan ”konteks dan teks” serta ”relasi antar teks” secara serius. Padahal, dua hal ini merupakan konsideran penting bagi seorang mufassir ketika ingin mengetahui makna yang dikehendaki oleh sebuah teks. Jika keduanya diabaikan, seorang penafsir sebetulnya menempatkan Alquran bukan sebagai teks keagamaan yang suci dan absolut.

Selain itu, jebakan tafsir saintifik telah menyebabkan suburnya sikap apologetis dari para mufassir karena selalu berusaha mengampanyekan kesesuaian antara teks keagamaan dengan penemuan-penemuan ilmiah yang niscaya berkembang dan berubah. Mereka tergoda untuk menegaskan bahwa Alquran telah memuat informasi-informasi keilmuan seperti yang dikemukakan ilmuwan mutakhir. Padahal, cara ini mengabaikan pertimbangan-pertimbangan konteks ayat serta relasinya dengan ayat-ayat yang lain. Pada gilirannya, cara ini juga mereduksi pemahaman teks Alquran sebagai Weltanschauung kehidupan Muslim.

Metodologi Tafsir Sastra

Untuk melapangkan tafsir sastrawi atas Alquran, Alquran pertama-tama diandaikan sebagai teks sastra Arab yang paling agung (al-kitâbun al-`arabiyyul akbar). Secara historis, Alquran memang diturunkan dengan kemasan bahasa Arab, sebagai ”kode” yang digunakan Tuhan untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya. Di sini, usaha menafsirkan Alquran didefinisikan sebagai proyek kajian sastra kritis dengan metode yang valid dan dapat diterima.

Karena disejajarkan dengan studi sastra umumnya, al-Khuli menyuguhkan dua prinsip metodologis. Pertama, studi terhadap apa yang mengitari teks Alquran (dirâsatu mâ hawlal qur’ân). Kedua, studi teks Alquran itu sendiri (dirâsah fîl qur’ân nafsih). Studi pertama diarahkan untuk melakukan investigasi terhadap latar belakang Alquran, sejak proses pewahyuan, perkembangan dan sirkulasinya dalam masyarakat Arab sebagai obyek wahyu, serta kodifikasi dan variasi cara bacaannya.

Inilah tema kajian yang lebih dikenal dengan Ulûmul Qur’ân. Kajian ini juga difokuskan pada aspek sosial-historis Alquran, termasuk situasi mental, kultural, dan geografis masyarakat Arab abad ke-7, saat Alquran diturunkan. Kajian ini menitikberatkan pentingnya aspek-aspek historis, kultural, dan antropologis wahyu, dan kondisi masyarakat Arab abad ke-7 sebagai objek langsung teks wahyu itu.

Penitikberatan aspek-aspek sosial yang masuk dalam rumpun humaniora tadi, akan membantu secara metodologis agar kita sampai pada makna yang kehendaki teks. Hal ini tidak berarti teks Alquran akan kehilangan sakralitasnya lantaran didekati ilmu-ilmu kemanusiaan. Sebaliknya, ilmu tersebut merupakan alat bantu efektif yang dapat menghidupkan semangat teks keagamaan dalam konstalasi realitas sosial yang menjadi konsideran nilai filosofis wahyu.

Selanjutnya, studi teks Alquran itu sendiri. Caranya dimulai dengan penafsiran makna kata-kata tunggal (mufradât) yang digunakan saat ia diwahyukan, perkembangan, dan cara pemakaiannya di dalam Alquran. Cara ini dilanjutkan dengan pengamatan terhadap kata-kata jamak (murakkab) plus analisis tentang pengetahuan gramatikal Arab (al-balâghah).

Dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran, al-Khuli juga menggunakan metode tafsir tematik (tafsîr maudhû’i). Ini dikarenakan urutan ayat dan surat-surat pada Alquran tidak disusun berdasarkan kronologinya, dan karena itu, suatu informasi yang dimuatnya bertebaran tidak hanya pada satu surat saja. Dalam studi Alquran kontemporer, al-Khuli telah menyumbangkan tawaran-tawaran metodologi yang lebih sistematis dibanding banyaknya tafsir tematik kontemporer lainnya. Dasar-dasar tafsir Al-Khuli kini telah banyak digunakan untuk menarik ”makna terdalam” dari ayat-ayat Alquran.


Tidak ada komentar: